Begu (Hantu) bagi Orang Batak, Ada yang Baik dan Jahat

Coky Simanjuntak | Sabtu, 01 Oktober 2016 10:10:14

Ilustrasi hantu
Ilustrasi hantu

Masyarakat Batak, utamanya sebelum Kristen masuk, sangat percaya adanya konsep begu (hantu). Begu ini adalah tondi (jiwa atau roh) yang telah meninggalkan tubuh seseorang untuk selamanya.

Budayawan Batak, Bungaran Antonius Simanjuntak, menjelaskan masyarakat Batak percaya begu bisa bertingkah laku layaknya manusia. Hanya saja mereka beraktivitas pada malam hari.

“Ada begu yang baik, ada yang jahat,” ujar Bungaran dalam ‘Arti dan Fungsi Tanah Bagi Masyarakat Batak’ (2015).

(BACA: Benarkah Orang Batak Dulu Suka Makan Orang?)

Karena ada begu yang baik, maka tak heran banyak orang Batak sering memberikan pelean (sesaji) kepada mereka sesuai kebutuhannya.

Bagi masyarakat Batak, begu yang terpenting adalah nenek moyang sendiri. Kalau begu tersebut berasal dari tondi orang yang kaya, sakti dan berkuasa/berpangkat, maka keturunannya wajib menghormatinya dengan upacara atau pesta secara besar-besaran.

(BACA: Bahasa Lain Boleh Punah, 'Hata Batak' Tetap akan Bertahan Lama)

Baik begu jahat maupun begu baik, akan disegani oleh orang Batak sesuai dengan kapasitasnya.

Begu yang jahat diyakini dapat marah kepada manusia. Dalam keadaan demikian, begu tersebut berbahaya,” ujar Bungaran.

Nah, upaya untuk meredakan kemarahan begu tersebur dilakukan dengan cara mempersembahkan sesaji kepada yang bersangkutan.