Bangso Batak Darurat Ulos!

Laurencius Simanjuntak | Minggu, 23 Oktober 2016 09:10:44

Ilustrasi penenun ulus/batakgaul
Ilustrasi penenun ulus/batakgaul

Ulos sebagai warisan leluhur Bangso Batak kini dalam keadaan darurat. Sebab, jumlah partonun (penenun) ulos semakin sedikit dan banyak halak hita, khususnya inang-inang, lebih suka memakai songket ketimbang kain dari budayanya sendiri.

Atau kalaupun mereka memakai ulos, kebanyakan adalah buatan pabrik. Bukan hasil tenunan tangan lagi.

CF Sijabat, pemerhati ulos Silalahi, bercerita bahwa maestro penenun ulos Silalahi tinggal sedikit, yakni ompung-ompung yang usianya sekitar 60 tahun. Belum ada generasi muda yang meneruskan kerjainan ini.

“Jadi ulos Silalahi sekarang makin kritis,” kata Sijabat dalam diskusi kamisan di Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT), seperti dikutip dari danautoba.org, dua pekan lalu.

(BACA: Selamat Hari Ulos Nasional, Bangso Batak!)

Partonun ulos kumpul di Medan/batakgaul

Melihat kondisi ini, kata Sijabat, dia pernah mendatangi Sadiman Sigiro dan meminta agar dibuat kelas martonun (bertenun) ulos di Silalahi. Permintaan ini pun disanggupi, sehingga dibukalah kelas atas lobi pemerintahan daerah setempat.

"Janjinya kalau sekali mengajar gurunya diberi imbalan Rp 50.000. Tetapi ketika saya pulang ke kampung lagi gurunya angkat tangan dan tidak bisa mengajar lagi,” cerita Sijabat.

Selain di Silalahi, di Paropo juga hanya ada 4 petenun yang berusia antara 72-75 tahun.  Di sana tidak ada lagi anak muda yang meneruskan bertenun karena mereka lebih suka mencabut dan mengupas bawang.

(BACA: Dua Mahasiswi Cantik asal Italia Ini Fasih Baca Aksara Batak Kuno)

Joyce Boru Manik, pegiat fashion berbahan ulos, sepakat ulos sekarang sedang gawat darurat. Oleh karenanya, menurut dia, butuh penanganan serius untuk menyelamatkan warisan leluhur Bangso Batak ini dari kepunahan.  

“Saya juga ingin ulos bisa jadi fashion,” kata alumnus arsitek Universitas Indonesia (UI) yang pernah tinggal di AS selama 15 tahun ini.

(BACA: Ahok Sudah Diulosi oleh Dua Keluarga Batak Ini)

Ketua Umum Naposo Batak se-Jabotabek (Nabaja), Darman Siahaan, mengatakan hendaknya generasi muda tidak melulu disalahkan atas terabaikannya warisa budaya Batak.

“Karena bagaimanapun juga mereka tidak lepas dari didikan orangtua mereka. Jadi mulai dari diri kita masing-masing, mulai terhadap anak-anak kita masing-masing,” ujar Darman. 

"Kalau kita sendiri tidak bisa mengajak anak kita mengenal budaya Batak, bagaimana mungkin kita mengajak anak muda lain," imbuhnya.