Arsitek Batak Perancang Masjid Istiqlal 

Coky Simanjuntak | Sabtu, 16 April 2016 22:04:59

Frederich Silaban. Dok Kompas
Frederich Silaban. Dok Kompas

Jika Frederich Silaban masih hidup, barangkali dia adalah orang yang menangis paling kencang melihat banyaknya kasus intoleransi di negeri ini.  Bagaimana tidak, lewat tangan seorang arsitek Batak Kristen ini, Masjid Istiqlal justru dirancang.

Toleransi beragama yang tumbuh subur di masa Presiden Soekarno membuat umat Muslim tidak mempersoalkan keyakinan yang dianut arsitek masjid terbesar se-Asia Tenggara itu. Asalkan dia cakap dan mampu, ya silakan berkarya. 

Dan Silaban mampu membuktikannya. Desain masjid bersandi ‘Ketuhanan’ karya Silaban menjadi pemenang pertama sayembara sketsa dan maket yang diselenggarakan oleh Presiden Soekarno pada 1955.

Dengan menyingkirkan puluhan peserta, Silaban dianugerahi sebuah medali emas 75 gram dan uang Rp. 25.000. Penyerahan hadiah dilakukan di Istana Negara pada 5 Juli 1955.Enam tahun kemudian atau tepatnya 24 Agustus 1961, hasil rancangan Silaban  mulai dibangun. Diawali dengan peletakan batu pertama oleh Presiden Soekarno.

Frederich Silaban berbincang dengan Presiden Soekarno
Frederich Silaban berbincang dengan Presiden Soekarno

Sempat terhambat pembangunannya karena tragedi 1965, Masjid Istiqlal akhirnya berdiri dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978 atau enam tahun sebelum Ompung Frederich berpulang ke pangkuan Bapak di Surga pada 14 Mei 1984.

Masjid Istiqlal hanyalah satu dari puluhan bangunan yang maketnya lahir dari tangan arsitek otodidak tamatan STM ini. Bahkan, belasan bangunan karya Ompung Frederich kini masih berdiri di pusat Jakarta. Sebut saja Tugu Monas (1960), Gedung BNI 46 Jakarta (1960), Gelora Bung Karno (1962), Gedung Bank Indonesia (1958), dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyak karyanya, Masjid Istiqlal barangkali yang paling berkesan baginya. Sebab, karya yang lahir dari toleransi anak bangsa itu membuat Ompung Silaban menerima anugerah Tanda Kehormatan Bintang Jasa Sipil berupa Bintang Jasa Utama dari pemerintah.

Masjid Istiqlal dalam pembangunan
Masjid Istiqlal dalam pembangunan

Silaban juga tercatat sebagai salah satu pendiri Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Namun menjadi seorang teknokrat juga tidak lantas membuat Ompung Silaban abai terhadap kebudayaan. Dia bahkan tercatat sebagai salah satu penandatangan konsepsi kebudayaan untuk mendukung upaya pemerintah untuk memajukan kebudayaan nasional.

Sejarah hidup Ompung Frederich memang patut dikenang oleh generasi muda Indonesia, terlebih pemuda-pemudi Batak. Meski cuma berbekal pendidikan STM, tapi dengan ketekunan dan kerja keras, Ompung Silaban bisa melampaui para sarjana arsitektur.

Bagi kalian yang sudah mengenyam berpendidikan tinggi, mampukah kalian berkarya seperti Ompung Silaban?