Apa Ukuran Sukses Orang Batak?

Tansiswo Siagian | Kamis, 02 Maret 2017 19:03:41

Ilustrasi/blogspot
Ilustrasi/blogspot

Orang Batak dikenal sebagai suku yang sangat dinamis, pekerja keras dan ulet dalam berjuang. Tetapi sangat disayangkan oleh banyak hal dan kondisi alamnya yang kurang mendukung, membuat orang Batak sejak dahulu ramai-ramai meninggalkan Bona Pasogit untuk mencari kehidupan yang lebih layak (mangalului panjampalan na lomak).

Gerakan ‘hamajuon’ yang diprakarsai HKBP melalui Nommensen dengan konsep ‘pargodungan’  sebagai pusat iman, pendidikan dan kesehatan, membuat banyak orang Batak mengenyam pendidikan sehingga mendorong  naposo Batak  merantau.

Tetapi semakin orang berpendidikan, semakin tidak betah tinggal di Bona Pasogit. Sebab tidak ada tempat bagi mereka yang  berpendidikan berkiprah di Bona Pasogit. Lahan pertanian yang terbatas dan tanah yang  gersang  ‘tungil’, membuat akses produksi sangat terbatas.

Satu-satunya cara untuk keluar dari persoalan hidup yang semakin terhimpit (so adong pandaraman) adalah merantau.

Pilihan itu sangat tepat. Terbukti perantau (parjalang), apakah berbekal pendidikan atau tidak, bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik di tanah perantauannya.

Misalnya, dengan menjadi pegawai swasta, pegawai negeri, berdagang, atau membuka lahan pertanian baru di Sumatera Timur (Sumatera Utara sekarang) sampai ke Tanah Alas-Aceh. Maka semakin menjadi pilihanlah keluar dari Bona Pasogit jika ingin berpenghidupan lebih baik.

Semua sepakat pendidikan adalah cara terbaik meningkatkan derajat kehidupan “panangkokhon ngolu” sekaligus menaikkan prestise keluarga “patimbo sangap ni natorasna”. Tentunya harus keluar dari Bona Pasogit.

Semangat menaikkan derajat dan prestise keluarga inilah mendorong naposo Batak berjuang dengan kondisi apapun di perantauan, dan anehnya akan lebih dihormati seorang yang berhasil di perantauan dibandingkan dengan yang sukses di Bona Pasogit.

Betul, tidak semua perantau itu berhasil di rantau, tapi bagaimanapun sakitnya di rantau masih ada harapan suatu saat nasib akan berubah, ketimbang jika tetap di Bona Pasogit.

Bahkan jangan heran, seorang naposo bekerja pada orang lain di Bona Pasogit dengan upah Rp 2 juta rupiah sebulan akan lebih senang dengan gaji yang sama di perantauan “ingat lagu : ‘biar kambing di kampung sendiri, tapi banteng di perantauan (lagu: Anak Medan)”.

Hagabeon, Hamoraon, Hasangapon” kita sebut Trilogi Sukses Batak menjadi gambaran sukses orang Batak dewasa ini. Tetapi saat ini, itu telah bias bahkan telah bergeser pemahamannya, menjadi sangat relatif kalau tidak dapat disebut semakin kabur.

Karena pada akhirnya, kekayaanlah material “haomoraon sinadongan” yang menjadi tujuan utama dalam hal ini.

Tetapi dalam filosofi (dasar sukses/berhasil) “hamajuon” orangtua Batak adalah ketika anaknya bisa lebih baik, maju, meningkat minimal satu tingkat dari orangtuanya. “Anakhonki do hamoraon di ahu”.

Ini dapat kita kaitkan dengan bubung rumah Batak yang lebih tinggi di depan daripada di belakang, yang berarti lebih tinggilah kiranya anak dari orangtua.

Panangkokhon ma ianakhon sian natorasna”. Sebab anak kitalah yang harus dikedepankan, agar lebih maju mengharumkan nama orangtua “anak do sipajoloon siboan sangap tu natuatuana”.

Misalnya, jika naposo Batak, tamat hanya SMP maka minimal naiklah  setingkat pendikan anak, sedikitnya SMA. Kalau lae/ito punya rumah dan mobil biasa, maka anaknya bisalah meningkat dari itu.

Jika lae/ito, orang yang baik dan terhormat, maka lebih baik dan terhormatlah anaknya. Tetapi jika lae/ito sarjana dan kerja yang bagus, tetapi anaknya hanya tamat SMA dan pendapatnya paspasan, maka lae/ito dianggap tidak berhasil. Sebab anaknya malah menjadi turun “pasuruthon sian natorasna”.

Akhirnya, sukses orang Batak dapat kita nilai bukan pada saat dia hidup, tetapi setelah dia meninggal dunia: apakah anaknya semakin maju atau semakin menurun “panagkokhon manang pasuruthon ankahonna”??.

(Ditulis sebagai sebuah opini yang sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis).