Anugerah Budaya Setelah Raja Parmalim Tiada

Jordan Silaban | Selasa, 27 September 2016 13:09:07

Raja Ihutan Marnangkok Naipospos/blogspot
Raja Ihutan Marnangkok Naipospos/blogspot

Dua pekan setelah Pemimpin Parmalin (Raja Ihutan) di Hutatinggi, Marnangkok Naipospos tiada, komunitas penganut kepercayaan asli Batak Toba itu mendapat anugerah budaya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Penghargaan diterima oleh Monang Naipospos dalam malam 'Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi 2016' di Gedung Teater Taman Ismail Marzuki (TIM), Jumat (23/9).

Parmalim adalah satu dari 54 pihak yang mendapat penghargaan. Bersama Bentara Budaya Jakarta dan Komunitas Bahari Mandar, Parmalim mendapat penghargaan untuk kategori komunitas.

“Atas Dedikasi dan Pengabdiannya dalam Bidang Pelestarian dan Pengembangan Seni Pertunjukan, Visual, dan Festival Adat Batak Toba,” demikian  tertulis dalam piagam yang diterima Monang.

(BACA: Komunitas Kepercayaan Asli Batak Toba Raih Penghargaan Pemerintah)

Usai penyematan pin dan penyerahan piagam Anugerah Kebudayaan itu, Monang mengatakan, parmalim secara berkelanjutan memang terus melakukan pembinaan dan penanaman seni dan budaya Batak kepada generasi muda.

Monang Naipospos/Facebook

Misalnya, dalam bentuk tortor (tarian), uning-uningan (seni musik), dan sebagainya. Seperti saat perayaan Sipahasada, kata Monang, seni tersebut bahkan diperlombakan.

“Dalam kegiatan Sipahalima, pargonsi yang berperan memang masih yang tua-tua. Tapi kami juga sudah punya pargonsi dari generasi usia 25-an tahun yang akan meneruskan peran itu kelak,” tutur Monang yang dalam organisasi formal Parmalim menajabat sebagai ketua umum.

(BACA: Selamat Hari Internasional Masyarakat Adat, Bangso Batak!)

Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Kemendikbud, Nadjamuddin Ramly mengatakan, para penerima penghargaan tidak hanya memperoleh piagam dan pin emas, tetapi juga uang penghormatan sebesar Rp 50 juta per orang. Adapun untuk empat maestro di bidang seni tradisi akan diberikan Rp 25 juta setiap tahunnya hingga mereka wafat.

Untuk diketahui, pada 14 September 2016 lalu atau sekitar dua pekan sebelum pemberian penghargaan ini, Pemimpin Parmalim (Raja Ihutan) di Hutatinggi, Laguboti, Kabupaten Tobasa, Marnangkok Naipospos (77), tutup usia.

Dimakamkan Senin (19/9), Raja Marnangkok Naipospos semasa hidupnya selalu giat memimpin kepercayaan Parmalim dan selalu mengatakan, parmalim bukan penyembah berhala tetapi pemuja Debata Mula Jadi Nabolon atau Tuhan Yang Maha Esa yang tidak bermula dan tidak berujung.