9 Tingkat Kepercayaan Asli Masyarakat Batak Toba

Tuntun Siallagan | Senin, 27 Maret 2017 18:03:27

Ilustrasi/batakgaul
Ilustrasi/batakgaul

Sebelum agama masuk ke Tano Batak, sudah ada kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat halak hita. Kebanyakan masyarakat Batak dulu percaya bahwa kekuatan dan kekuasaan tertinggi itu berada pada Debata Mula Jadi Nabolon yang menciptakan langit dan bumi.

Begitu juga dengan keberadaan Sisingamangaraja. Banyak yang meyakini kalau dia itu sakti dan bisa berhubungan langsung dengan Debata Mula Jadi Nabolon untuk membawa perintah yang akan disampaikannya. Bisa disebut sebagai santa ataupun nabi.

Dalam buku 'Mengenal Batak' (Ismail Manalu, 1985) disebutkan, dalam berkeyakinan, ada sembilan tingkatan kepercayaan masyarakat Batak Toba yang keseluruhannya saling berkaitan. Mulai dari tingkat pertama sampai tingkatan terakhir.

Apa saja 9 tingkatan itu? Berikut urutannya:

1. Tano ataupun tanah

Tanah diyakini sebagai muasal diciptakannya manusia oleh Sang Pencipta. Kemudian dijadikan sebagai tempat tinggal untuk memperjuangkan hidup, yang pada akhirnya dijadikan sebagai tempat berpulang.

Tanah setapak sangat begitu berharga bagi masyarakat Batak yang dijadikan sebagai kampung atau tanah kelahiran (tanah pusaka) yang disebut sebagai Bona Ni Pasogit. Konon, pada zaman dahulu, apabila seseorang hendak meningalkan kampung halamannya dan merantau ke tano panombangan, seseorang itu akan mengambil segengam tanah untuk dibawa ke tempat tujuan.

Setibanya di sana, seseorang itu akan menduduki terlebih dahulu tanah itu sebelum akhirnya ditaburkan di tanah yang akan ditempatinya.

 

2. Mudar ataupun darah

Masyarakat Batak meyakini tubuh berasal dari tanah. Maka tanah itu pun harus dialiri darah ke setiap sendi dalam tubuh agar dapat hidup sebagaimana mestinya.

Mudar nilainya sangat tinggi dan itu diyakini sebagai pemeliharaan keturununan dari hasil perkawinan yang resmi secara adat. Dulu, dalam persoalan jodoh, orangtua akan selalu ikut campur.

Tujuannya sebenarnya hanya satu, yakni agar darah keturunannya kelak tidak dikotori noda darah dari perbuatan zinah.

Karena perbuatan zinah itu akan mendatangkan kutuk dari nenek moyang mereka. Darah keturunan juga dihargai sebagai garis vertikal dan horizontal.

Garis vertikal nantinya dikatakan sebagai garis keturunan atau Tarombo, kemudian garis horizontal akan berfungsi sebagai Hula-hula/mora bagi pemberi, selanjutnya pernerima disebut sebagai Boru/Bere.

 

3. Partuturon

Partuturon merupakan hubungan kekeluargaan atau famili. Dari hubungan darah vertikal dan horizontal tadi, maka terbetuklah sebuah keluarga kecil yang akan segera berkembang yang terdiri dari Ego, Boru/bere dan Hula-hula/Mora.

Kemudian Partuturon itu akan berkembang melalu pernikahan hingga timbullah tata tertib keluarga yang terkandung di dalam Manat Mardongan Tubu, Elek Marboru dan Somba Marhulahula. Dan itu mempunyai sanksi dan hukum sendiri.

Apabila ada yang melakukan pelanggaran, seseorang itu diyakini tidak hanya mendapat hukuman kekelurgaan, melainkan juga hukum abstrak seperti kutukan yang tidak habis diterima oleh generasi berikutnya.