Tahukah Kalian, Ada 3 Ribu Lebih 'Orang Batak' di Bulgaria

Coky Simanjuntak | Senin, 09 Mei 2016 03:05:21

Batak di Bulgaria/wikimedia.org
Batak di Bulgaria/wikimedia.org

Jika kalian memasukkan kata kunci 'batak' pada mesin pencari Google, jangan heran jika kata itu tidak hanya merujuk pada jenis suku/etnis di Indonesia. Tetapi juga pada sebuah kota di Bulgaria, negara di tenggara Eropa.

Terletak di Provinsi Pazardzhik, bagian selatan Bulgaria, Kota Batak memiliki penduduk sebanyak 3.498 jiwa pada 2009. Dalam Bahasa Indonesia, warga negara Bulgaria yang tinggal di Kota Batak juga disebut orang Batak (Батак).

Sama dengan kebanyakan suku Batak di Indonesia yang hidup di dataran tinggi Tapanuli, orang Batak di Bulgaria juga hidup di lereng-lereng Pegunungan Rhodope, dengan ketinggian 1.036 meter di atas permukaan air laut.

Karena sama-sama 'orang Gunung', lingkungan orang Batak di dua negara ini banyak dikelilingi hutan pinus dan cemara.

Bagi sebagian kalangan, kesamaan nama 'batak' mungkin tidaklah begitu penting. Namun, menjadi penting jika kita tahu bahwa Kota Batak di Bulgaria pernah menjadi sorotan dunia karena kasus pembantaian yang terjadi 22 April 1876.

Memberontak dari pemerintahan Ottoman, sedikitnya 5.000 Batak saat itu dibantai oleh militer di bawah komando Kesultanan Turki tersebut. Satu-satunya benteng terakhir orang Batak Bulgaria adalah Gereja Sveta Nedelya.

(BACA: 3 Alasan Kenapa Orang Batak Nyaris Tak Mungkin Jadi Teroris)

Namun, dalam peperangan yang berlangsung 5 hari tersebut, desa-desa dibakar dan tinggal bersisa debu. Berita tentang kekejaman pasukan Ottoman ini akhirnya tersebar ke dunia internasional. Sebagian besar berkat laporan Januarius MacGahan, jurnalis London Daily News.

Kemarahan publik atas kekejaman Turki itu menciptakan dukungan kepada Rusia untuk memerangi Turki. Pada 20 Januari 1878, orang Batak yang selamat dari pembantaian Tukri akhirnya bertemu dengan pasukan Rusia yang menyelamatkan mereka.

Sebuah tempat suci di Batak, Bulgaria/wikimedia.org

Menurut banyak sumber, 5.000 korban tewas itu ternyata cuma di Kota Batak saja. Sementara, jumlah total korban dalam pemberontakan April sekitar 15.000 orang.

Jumlah itu dibenarkan oleh laporan Eugene Schuyler dalam Daily News, yang menyebutkan 15.000 orang dari 36 desa di 3 distrik dibunuh dalam Pemberontakan April.

Seorang Komisioner dari Inggris, Baring, menggambarkan pembantaian di Kota Batak "mungkin sebagai kejahatan paling keji yang telah menodai sejarah abad ini." Hal ini dilaporkan Baring ke Komisi Turki. Namun setelah enam pekan penutupan komite, belum diputuskan apakah pembantaian orang Batak itu merupakan kriminal atau bukan.

Kisah pembantaian orang Batak di Bulgaria pada 1876 ini seakan mirip dengan pembantaian yang dilakukan Kaum Paderi kepada orang-orang Batak di Tapanuli pada 1803–1838.