Sulitnya Penjajah dan Misionaris Barat Temukan Danau Toba

Coky Simanjuntak | Minggu, 24 April 2016 16:04:51

Danau Toba tempo dulu/fotografer.net
Danau Toba tempo dulu/fotografer.net

Danau Toba bukanlah sebuah tempat yang mudah dicapai oleh orang-orang Barat dengan semangat Gold (menjajah demi kekayaan), Gospel (menyebarkan Injil) dan Glory (mencari kejayaan) pada abad ke-18.

Meski sudah mendapat kabar burung akan adanya suatu danau vulkanis yang sangat besar di jantung Bataklanden (Negeri-negeri orang Batak), mereka cukup kesulitan mencari lokasi tersebut. Setidaknya butuh lebih dari 80 tahun bagi orang-orang Barat untuk menemukan Danau Toba.

Dalam ‘The History of Sumatera’, William Marsden menulis bahwa orang-orang Batak memang sengaja menghalangi setiap orang asing yang berupaya masuk ke Danau Toba.

Bahkan, mereka sengaja memberi petunjuk yang salah terhadap Si Botar Mata (Si Mata Putih), julukan orang Batak terhadap orang-orang Barat. Namun, penghalangan ini justru membuat orang-orang Batak semakin penasaran.

 

1772

Upaya memasuki pedalaman Sumatera Utara dimulai oleh penjajah Inggris, Giles Holloway yang didampingi Charles Miller, seorang ahli Botani, pada 1772. Namun, perjalanan mereka hanya sampai Padang Lawas, tidak sampai menembus Danau Toba.

 

1823

Pada 9 Januari 1823, kapal perang Inggris Nautilus di bawah komando Anderson, berhasil bersandar di pantai timur Sumatera Utara. Rombongan Anderson ini kemudian menjelajah ke hulu-hulu sungai.

Di Sunggal, mereka bertemu dengan orang Batak Karo. Bergerak Selatan, mereka berjumpa dengan orang Batak Simalungun di Batubara. Semakin ke Selatan, mereka bertemu dengan orang Batak Toba di Sungai Asahan dan Silau.

Namun, ekspedisi Anderson ini tidak memahami bahwa Sungai Asahan terhubung langsung dengan Danau Toba, sehingga mereka gagal mencapai ke sana.

 

1824

Pada 30 April 1824, dua misionaris asal Inggris, Burton dan Ward, berangkat menuju pedalaman Danau Toba denga misi menyebarkan agama Kristen ke penduduk setempat.

Oleh Wakil Gubernur Jenderal Inggris yang berkedudukan di Bengkulu, Sir Stamford Raffles, Burton dan Ward diperintahkan mencapai sejauh mungkin pedalaman Tanah Batak untuk mendirikan pos-pos penyebaran agama Kristen.

A History of Christianity in Indonesia (2008)/books.google.co.id

Dalam perjalanannya, mereka masuk lewat Teluk Tapiannauli (kemudian disebut Tapanuli), menuju ke Utara ke Lembah Silindung, daerah terdepan Tanah Batak dulu yang berhubungan dengan pantai barat.

Burton dan Ward kemudian bertekad mencapai Danau Toba. Namun sama dengan orang-orang Barat terdahulu, mereka mendapatkan “tantangan yang tidak bersahabat” dari penduduk setempat. (BACA: Benarkah Orang Batak dulu Suka Makan Orang?)

Dalam laporan mereka, Journey Into The Batak Country (Perjalanan ke Daerah Batak), tantangan ini yang kemudian membuat Burton dan Ward membatalkan niatnya menembus Danau Toba.

Perihal “tantangan yang tidak bersahabat” ini, menurut Budayawan Batak, Sitor Situmorang, hanyalah tafsiran berdasarkan prasangka atas kesalahpahaman mengenai sikap penduduk.

Sebab, dalam catatan Burton dan Ward yang lain, mereka mengaku disambut dan ditampung sebagai tamu menurut adat setempat. Mereka juga sempat menyaksikan berbagai upacara adat.

“Salah paham yang timbul antara tuan rumah dan pendatang asing seperti itu wajar saja. Penduduk bisa tetap bersikap ramah tapi juga sekaligus curiga terhadap maksud-maksud si pendatang,” ujar Sitor dalam bukunya Toba Na Sae (2004).

 

1834

Pada 1834, giliran orang Amerika, Munson dan Lyman, masuk ke pedalaman Tanah Batak, dengan maksud menyebarkan agama Kristen. Namun, mereka dicegat penduduk lalu dibunuh di wilayah perbatasan Lobu Pining.

Henry Lyman dan Samuel Munson/blogspot

Menurut Sitor, cerita pembunuhan ini selalu ditonjolkan orang Barat, terutama dalam tulisan yang membela penjajahan sebagai ‘tugas suci’ mereka untuk menyebarkan peradaban.

Padahal, kata Sitor, menurut versi penduduk Lobu Pining, Munson dan Lyman terbunuh dalam insiden antara penduduk dan pendatang, yang dipicu tewasnya seorang ibu akibat tertembak oleh pengawal mereka.

“Kenyataan bahwa motif utama yang disebut “pembunuhan” akibat pelanggaran kedaulatan negeri cenderung dikesampingkan begitu saja,” protes Sitor terhadap wacana yang dikembangkan Barat.

 

1840

Setelah Inggris dan Amerika, giliran pemerintah Hindia-Belanda mencoba menembus Danau Toba. Namun, tidak seperti Inggris dan Amerika yang datang dengan misi agama, Belanda awalnya mengirim seorang sarjana, Junghuhn, untuk mengadakan penelitian ilmiah di sekitar Danau Toba.

Dalam penelitiannya, Junghuhn bermaksud mengumpulkan berbagai informasi soal lahan, flora dan fauna, adat-istiadat, dan juga kondisi Danau Toba. Namun, sama seperti Burton dan Ward, Junghuhn hanya berhasil mencapai Lembah Silindung.

Junghuhn/blogspot

Bahkan, sejumalah sumber menyebutkan, bahwa Junghuhn pun sebenarnya tidak sampai ke Lembang Silindung. Dia hanya berhasil sampai Sipirok, wilayah selatan Silindung.

Bahkan, Junghuhn, yang dalam perjalanannya mengaku juga mendapatkan perlawanan dari Orang-orang Batak, pernah menyimpulkan bahwa danau vulkanis terbesar di dunia itu tidak ada. Alias dongeng belaka.

 

1844

Setelah Junghuhn, orang Belanda lainnya, Oscar van Kessel, mencoba masuk ke pedalaman Tanah Batak pada 1844. Sang misionaris ini masuk lewat Angkola-Sipirok, kemudian menuju utara.

Karena serangan yang pernah dilakukan Gerakan Padri masih terasa di Tanah Batak, Kessel mencari aman. Dia menyusuri Sungai Batang Toru ke arah hulu, melewati lembah-lembah yang tidak berpenduduk, lalu sampai ke Lembah Silindung. Namun, dia tetap gagal mencapai Danau Toba

 

1852

Belajar dari para misionaris sebelumnya yang banyak dicurigai oleh orang-orang Batak, Netherlands Bijbelgenootschap (Perkumpulan Injil Belanda) menunjuk seorang sarjana bahasa, Neubronner van der Tuuk, untuk masuk ke pedalaman Tanah Batak.

Tuuk bertugas di lapangan untuk menerjemahkan Bahasa Batak, sehingga Injil bisa terlebih dulu diterjemahkan ke dalam Bahasa Batak, sebelum akhirnya dilakukan penginjilan.

Meski awalnya juga ikut dicurigai, Tuuk akhirnya berhasil merebut kepercayaan penduduk, sehingga dia membulatkan tekad untuk meneruskan perjalannya ke pedalaman.

Sama dengan Holloway dan Miller, dia awalnya menuju arah Padang Lawas dan Angkola. Tidak langsung menuju Danau Toba. Kemudian, dia kembali ke pangkalannya di Barus, wilayah utara Sibolga.

 

1853

Setelah mendapat kepercayaan penduduk, Neubronner van der Tuuk akhirnya mencapai Danau Toba. Pencapaian ini dia laporkan ke Amsterdam pada bulan Juli 1853.

Neubronner van der Tuuk/blogspot

Dengan demikian, Tuuk adalah orang Barat pertama yang berhasil menginjakkan kaki di Danau Toba. Peristiwa ini adalah sepuluh tahun sebelum Ludwig Ingwer Nommensen, misionaris Jerman yang dikenal sebagai Bapak Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), masuk Tanah Batak pada 1864.

Saat Tuuk menginjakkan kaki di Danau Toba, orang Batak di pedalaman masih merdeka dari penjajah, karena pemerintah Hindia-Belanda baru menguasai pesisir.

Ditemani oleh seorang pedagang Melayu, Tuuk berhasil juga sampai ke Lembah Bakkara, tempat Singamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon.

Maka tak heran dalam laporannya, Tuuk menyebut Singamangaraja XI sebagai ‘Raja dari semua orang Batak.’