Orang-orang Menyebutnya Seniman Gorga Batak Termuda

Alex Zetro Siagian | Rabu, 01 Maret 2017 18:03:53

Jesral Tambun, seniman gorga Batak/istimewa
Jesral Tambun, seniman gorga Batak/istimewa

Sulit untuk tidak menebak pria Batak ini sebagai seniman. Rambut gondrong yang dikuncir sekenanya dan tubuh liat memegang pahat adalah bagian dari penampilan Jesral Tambun sehari-hari.

Di usianya yang baru 29 tahun, nama Jesral sudah banyak diakui sebagai salah satu seniman gorga Batak terbaik di Bona Pasogit. Bahkan, dia sudah sering dipanggil ke luar kota untuk pekerjaan menggorga yang sudah menjadi jalan hidupnya.

Uniknya lagi, di tengah langkanya seniman gorga, Jesral mempelajari seni lukis dan ukir khas Batak ini secara otodidak sejak 2008 atau saat usia 20 tahun.

"Keluarga saya tidak ada yang dapat menggorga. Saya hanya mendapatkan ini secara otodidak,” ujar Jesral saat ditemui batakgaul.com di rumahnya di Hutajulu, Desa Pardolok, Kecamatan Bonatua Lunasi, Kabupaten Toba Samosir, belum lama ini.

(BACA: Octo Purba, Saksi Hidup Costa Concordia yang Kini Jadi Perupa)

Jesral Tambun/istimewa

Jesral menjelaskan, gorga terbagi dalam dua jenis, yakni gorga dais (seni lukis) dan gorga lontik (seni ukir). Gorga lontik dapat dilihat di beberapa bagian rumah batak. Sementara gorga dais sering terlihat di tugu orang-orang batak.

Namun bagi Jesral, gorga bukan sekadar seni lukis atau ukir biasa, melainkan lukisan jiwa. Oleh karenanya, setiap lekukan motif gorga memiliki makna tersendiri. 

"Jadi gorga yang ada di rumah Batak itu tidak ada yang sama. Semua berbeda, tapi karena memiliki motif dasar dan warna yang sama (merah-hitam-putih), makanya terlihat sama,” kata Jesral yang baru ‘mangalap' Boru Marpaung tahun lalu ini.

"Jika dilihat dengan teliti, motif tersebut pasti berbeda yang juga memiliki makna yang berbeda,” lanjutnya.

Soal warna merah, hitam dan putih yang selalu mengisi lekukan gorga, kata Jesral, kombinasi itu adalah mutlak. Tidak boleh ada warna lain selain tiga warna itu.

Kenapa?