Mengenang Donald Pandiangan, 'Robin Hood' dari Tano Batak

Laurencius Simanjuntak | Selasa, 30 Agustus 2016 08:08:31

Donald Pandiangan/blogspot
Donald Pandiangan/blogspot

Kalau ada yang bertanya siapa atlet panahan Indonesia yang paling hebat, barangkali Donald Pandiangan masih menjadi jawabannya. 

Berbagai prestasi yang diraih di kejuaraan panahan dunia, membuat pria kelahiran Sidikalang 12 Desember 1945 itu dijuluki ‘Robin Hood’. 

Konon julukan itu Donald juga diterimanya karena pernah menancapkan panah di ujung ekor panah lainnya. Ya, Donald adalah ‘Robin Hood’ Indonesia dari Tano Batak.

Tak Mampu Kuliah

Perjalanan hidup Donald dimulai ketika anak kesepuluh dari sebelas bersaudara ini memutuskan merantau ke Jakarta selepas SMP. Dia tinggal bersama dengan kakaknya yang menjadi pendeta.

(BACA: Hebat! Si Butet Akhirnya Raih Medali Emas Olimpiade Rio 2016)

Di ibukota, Donald lulus dari SMA Taman Madya. Sebenarnya, kemauan belajarnya masih kuat. Donald ingin sekali meneruskan kuliah ke fakultas teknik, namun apa daya. "Terbentur biaya," kata Donald pada suatu kesempatan. 

Donald kemudian bekerja sebagai staf urusan humas pada Perum Angkasa Pura. Di tempat inilah, melalui klub karyawan Panahpura, ia mulai mengenal olah raga panahan pada 1971.

Donald Pandiangan/blogspot

Dari sinilah prestasi-prestasi Donald kemudian berdatangan. Dia tercatat menjadi juara Sea Games sebanyak empat kali, setelah sebelumnya memecahkan rekor atas nama pelatihnya, Suhartomo pada PON VIII di Jakarta pada 1973.

Selain itu, namanya juga terkenal di kejuaraan-kejuaraan internasional, karena menjadi nomor satu di negeri orang. 

(BACA: Sssttt....! Ada Pemuda Batak di Tim Thomas Cup Indonesia 2016)

Sebut saja, Kejuaraan Panahan Negara Bagian New York, di Green (1978), Kejuaraan Panahan Singapore Air Force Sport Association, Singapura (1978), Kejuaraan Panahan Asia Pertama, di Calcutta, India (1980).

Pengalaman paling berkesan bagi Donald adalah ketika mengungguli pemanah kaliber dunia dari Jepang, Takayosi Matsushita pada 1980. "Tidak pernah saya bayangkan saya bisa mengalahkannya," tutur Donald. 

Gagal ke Moskow

Setelah menjuarai sejumlah kejuaraan internasional, obsesi Donald adalah meraih medali emas pada Olimpiade Moskow 1980. 

Namun apa daya, dia gagal bertanding ke Rusia karena Indonesia menjadi salah satu negara yang memboikot olimpiade lantaran invasi Negeri Beruang Merah ke Afganistan.

Harapannya pupus ketika itu. Bagaimana tidak, tekadnya mengharumkan nama bangsa harus hancur lebur gara-gara urusan politik.

(BACA: Mantan Petinju Nasional Asal Sumut Liston Siregar Meninggal Dunia)

Donald marah betul ketika itu dan sempat menghilang sekian lama, sampai akhirnya mau kembali ke gelanggang panahan menjadi pelatih bagi kontingen Indonesia di Olimpiade Seoul 1988.

Donald berhasil membawa trio Srikandi Indonesia, yakni Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman dan Kusuma Wardhani merebut medali perak di Seoul.

Donald Pandiangan dan 3 Srikandi di Olimpiade Seoul 1988/blogspot

Keberhasilan Indonesia meraih medali pertama setelah 36 tahun ikut Olimpiade itu kemudian diflimkan oleh sutradara Iman Brotoseno lewat ‘3 Srikandi’ (2016).

Dalam film tersebut, Donald diperankan oleh Reza Rahardian, yang berpenampilan brewok dengan suara logat Batak yang menggelegar.

Donald Pandiangan meninggal dalam usia 63 tahun setelah dirawat sejak 17 Agustus 2008 di RS Cikini Jakarta akibat serangan stroke. Dia meninggalkan seorang istri dan empat orang anak, dan lima orang cucu. 

Sepeninggalan Donald, sejumlah keturunannya tetap berkiprah memajukan dunia panah Indonesia.