Martogi Sitohang Ungkap Asal Usul Lagu ‘O Jamila’, Karya Bapaknya

Tuntun Siallagan | Senin, 16 Januari 2017 07:01:00

Martogi Sitohang/FB
Martogi Sitohang/FB

Lagu berjudul 'O, Jamila' sudah tidak asing lagi di telinga orang Batak. Lagu yang populer tahun 70-an itu sampai saat ini masih diminati masyarakat dan bahkan kerap dinyanyikan, mulai di lapo tuak sampai konser-konser musik Batak. 

Nah, belakangan Musisi Batak Martogi Sitohang mengungkap, bahwa pencipta lagu yang pernah populer dinyanyikan Roy Sagala itu adalah bapaknya sendiri, Guntur Sitohang.

Namun, menurut maestro suling Batak ini, lirik dalam lagu ‘O Jamila’ sekarang bukanlah lirik sebenarnya.

"Inilah bapak kami (santabi among hugoari) Guntur Sitohang, umur 83 tahun, pencipta lagu 'O, Dunia'. Pada tahun 1956 bapak masuk PRRI dan terciptalah lagu 'O, Dunia' yang menceritakan kisah perjuangan," tulis Martogi sambil mengunggah foto bapaknya, Guntur Sitohang, lewat Facebook, belum lama ini.

(BACA: Sitohang Bersaudara, Pelestari Musik Batak di Era Millennia)

Guntur Sitohang/FB

Dijelaskan Martogi, adapun lirik awal lagu tersebut adalah: "ari sampulupitu toho mai di bulan onom, ro do tu nipikku ikkon sinjata dongan modom, asi roha ni Tuhan dioloi ma pangidoan, anggiat boi monang na nipimpin ni si Simbolon o, dunia." 

(Hari ke-17 tepat di bulan 6, datang melalui mimpiku untuk tidur berteman senjata, semoga Tuhan berbelas kasih dan mengabulkan permintaan, semoga bisa memang yang dipimpin Simbolon ini, o, dunia)

"17-06-56 merupakan hari bersejarah PRRI,” jelas Martogi.

(LIHAT VIDEO: Cara Memainkan Hasapi (Gitar Batak) oleh Martogi Sitohang)

Untuk reffrein lagu ‘O, Dunia', Martogi menuliskannya seperti berikut: 

"O, dunia, dunia, inganan ni na susa, rura partangisan da sibaran lapa lapa, boha hian partubuanku ikkon hutaon na songon on, panongos mi di au dan na martua Debata, O, dunia." 

(O, dunia, dunia, tempatnya orang susah, jurang tangisan yang merupakan bagian orang susah, seperti apa aku lahir hingga aku merasakan hidup yang seperti ini, miskinmu samaku Tuhan yang dimuliakan, O, dunia).

Lalu, kenapa bisa berubah jadi 'Jamila’?