Jhonny Siagian, Preman Pasar Senen yang Pulang ke Kampung Halaman

Alex Siagian | Selasa, 20 Desember 2016 10:12:15

Jhonny 'Arek' Siagian/batakgaul
Jhonny 'Arek' Siagian/batakgaul

Bangunan itu lebih menyerupai pondok. Di dindingnya terpajang foto-foto jadul para artis Hollywood era 1980-an. 

Sementara di sisi kiri, terdapat barisan kolam yang berisi ikan-ikan mujair.

“Enakan di sini (Balige),” kata Jhonny, si pemilik pondok, kepada batakgaul.com, Senin (19/12) sambil melempar pelet ke kolamnya.

Sudah dua tahun belakangan, pria 70 tahun ini memang kembali tinggal di kampung halamannya, Desa Bonan Dolok, Kecamatan Balige, Kabupaten Tobasa, Sumut. 

Walau harus tinggal sendiri karena anak-anaknya hidup di perantauan, dia mengaku sangat menikmati kesendiriannya.

"Nanti kalau ke Jakarta takutnya kembali ke Senen lagi,” ujarnya sambil tertawa. 

Di Pasar Senen, Jakarta Pusat, nama Jhonny ‘Arek’ Siagian memang sempat terkenal di era 1980 hingga 2000-an. Lika-likunya di dunia premanisme kala itu membuat nama sulung tiga bersaudara ini sangat ditakuti. 

Tabloid Bona Nipinasa No. 106 Tahun X Agustus 1999 pernah menulis profilnya berjudul 'Anju Johni Arek Siagian, Mantan Preman Berantas Preman’

Tabloid Bona Nipinasa No. 106 Tahun X Agustus 1999

Jhonny, yang kini sudah menjadi ompung (kakek),  lahir dari keluarga sederhana. Jonner Siagian, demikian nama pemberian inong (ibu) kepada anaknya yang lahir di Desa Bonan Dolok, Kecamatan Balige, Kabupaten Tobasa (dulu Tapanuli Utara), 21 April 1946.

Awalnya Surabaya

Usai menamatkan pendidikan SMP di kampung halaman pada 1966, pria berkumis tebal ini berangkat ke Surabaya. Di Kota Pahlawan ini, dia menemui familinya untuk mencoba peruntungan di dunia militer dengan mendaftar sebagai pasukan KKO-AL (Korps Komando Angkatan Laut). 

Namun dia tidak mampu melewati tahap seleksi dan akhirnya gagal. Dari kegagalan menjadi tentara inilah lika-liku Jonner di dunia premanisme dimulai. 

SPONSORED
loading...