Jatuh Bangun Marulam Hutauruk Mendirikan Penerbit Erlangga

Coky Simanjuntak | Sabtu, 10 Juni 2017 10:06:28

Marulam Hutauruk dan istrinya, Helena br Tobing/erlangga.co.id
Marulam Hutauruk dan istrinya, Helena br Tobing/erlangga.co.id

Pada 1960 atau enam tahun sejak Erlangga berdiri, Marulam menghadapi masa-masa krisis, yakni perubahan Ejaan Yang Disempurkan (EYD). Bahkan, seperti dilansir erlangga.co.id, perubahan kebijakan pemerintah ini membuat Marulam harus rugi besar dan memulai usahanya dari nol.

Pada 1966, Erlangga ikut terkena krisis moneter yang berdampak pemotongan nilai mata uang dari Rp 1.000 menjadi Rp 1.

(BACA: Mengenang Donald Pandiangan, 'Robin Hood' dari Tano Batak)

Namun badai akhirnya berlalu. Setelah krisis itu, Erlangga justru mengalami kemajuan yang luar biasa, yakni ekspansi buku-buku universitas dan ilmu pengetahuan (1970-1980) dan buku-buku pelajaran sekolah (1980-1990).

Marulam meninggal dunia pada 8 Agustus 1990 atau saat usaha yang didirikannya sudah jauh berkembang. Pada 1983, Erlangga dipimpin oleh Gunawan Hutauruk, cucu Marulam.

Sumber: pshutauruk.blogspot.co.id

Di bawah kepemimpinan Gunawan, Erlangga kembali ditimpa krisis moneter 1998. Namun, dengan efisiensi yang dilakukan, penerbit ini berhasil lolos dari badai harga kertas yang melonjak tajam.

Setelah mengalami jatuh bangun, Erlangga kini sudah menjadi penerbit yang mapan. Bahkan, sejumlah unit bisnis dan produk inovatif sudah dilahirkan penerbit ini dalam menghadapi kompetisi usaha yang semakin sengit di era digital.