Inang-inang di Medan Mengamuk Pergoki Boru-nya Kumpul Kebo

Jordan Silaban | Rabu, 15 Juni 2016 18:06:27

Boru Pangaribuan (kiri) yang kumpul kebo diamuk oleh mamaknya, boru Hutasoit (kanan).
Boru Pangaribuan (kiri) yang kumpul kebo diamuk oleh mamaknya, boru Hutasoit (kanan).

Jalan Pelita V, Medan Timur, mendadak heboh, Rabu (15/6). Penyebabnya adalah seorang inang boru Hutasoit (52) yang mengamuk lantaran mendapati putrinya, boru Pangaribuan (30), tinggal bersama pria marga Siregar (38), di salah satu kamar kos.

Padahal, si pria diketahui sudah beristri dan boru Pangaribuan sudah pisah dengan suaminya. Loak nai!

Berdasarkan informasi dihimpun, Siregar ini adalah warga Jalan Karya, dan boru Pangaribuan itu warga Jalan Rakyat, Medan Perjuangan. Mereka diamuk setelah inang boru Hutasoit mendatangi lokasi kos putrinya di Jalan Pelita V.

Inang itu langsung histeris melihat borunya tengah berduaan dengan laki-laki yang bukan suaminya. Inang itu berteriak-teriak di sana. Bahkan sampai menampar putrinya.

Ilustrasi kumpul kebo/blogspot

Terikan Inang boru Hutasoit ini rupanya mengundang perhatian warga, sehingga mereka mendatangi kos-kosan itu. Setelah itu, mereka membawa pasangan kumpul kebo itu ke rumah warga.

Pasangan kumpul kebo itu nyaris diamuk massa. Keduanya dihujat dengan kata-kata kasar.

Amarah warga reda setelah petugas kepolisian tiba di lokasi. Pasangan kumpul kebo itu diamankan dan dibawa ke Polsek Medan Timur. "Biar dijelaskan di kantor saja," kata Brigadir Arifin, personel Polsek Medan Timur.

(BACA: Seks di Luar Nikah Menurut Adat Batak Toba)

Untuk diketahui, dalam adat Batak Toba, kumpul kebo (marbagas roha-roha) dilarang keras. Kalau ini terjadi, pasangan kumpul kebo itu dianggap telah melanggar adat (sala tu adat). Karenanya, mereka pantas dituntut dan dihukum oleh penguasa.

Di derah Padang Lawas, tindakan asusila model begini disebut manaporkon ogung ni raja (memecahkan gong raja). Artinya, pasangan telah menyalahi hukum masyarakat dan ketertiban umum, sehingga pantas dijatuhi hukuman adat.