Hal yang Perlu Namboru Ketahui soal Emas 'Sangge-sangge’

Ester Napitupulu | Rabu, 11 Oktober 2017 13:10:39

Tika Romauli Siregar (kiri) dan Sangge-sanggre (kanan)
Tika Romauli Siregar (kiri) dan Sangge-sanggre (kanan)

Anggaplah kisah tragis Tika Romauli Siregar yang viral itu benar adanya. Gagal muli (menikah) hanya karena calon mertua protes kalung emasnya yang kekecilan, tentu ngeri kali.

Songon ni bulung sangge-sangge (seperti daun serai),” seloroh calon mertua perempuan tentang kalung emas yang dipakai Tika saat martumpol (pranikah).

Namboru, demikian Tika menyapa mantan camer-nya, juga memprotes model kebayanya yang dianggap ketinggalan zaman. Tapi kita tidak akan membahas kebaya di sini, karena itu soal estetika yang sangat subjektif dan relatif.

Tapi soal emas, Namboru harus tahu bahwa logam mulia itu kini bukan lagi ukuran prestise atau gengsi. Apalagi buat naposo (anak muda) macam Tika.

Dunia sudah berubah Namboru…

Di India saja, negara yang budayanya sangat lekat dengan emas, kesukaan anak-anak mudanya (milenal) sudah berubah. Padahal, kalau Namboru nonton 'Kuch Kuch Hota Hai’ dulu, banyak kali emas tergantung di badan mereka.

Tapi itu dulu Namboru. Soal emas, generasi milenial (usia 17-37 tahun) di India tidak lagi berpikir seperti orangtua mereka. Setidaknya itulah laporan World Gold Council (WGC) awal Januari 2017 lalu.

"Generasi muda pembelanja perkotaan lebih tergoda oleh produk lain. Akibatnya, emas bersaing dengan fashion mewah karya designer (pakaian, tas tangan dan sepatu, sari sutera), dan ponsel pintar di mana-mana, saat sampai pada harga yang tinggi, “ demikian laporan WGC.

(DAPATKAN: Kaos ‘Saya Batak, Saya Indonesia’ di Sini)

Nah, jika di India saja yang kehidupannya lekat dengan emas sudah demikian, apalagi kita di Indonesia, Namboru...

Asal Namboru tahu, para pedagang emas di Indonesia sudah mengeluh soal penjualan mereka yang terus menurun. Pada 2015 saja, Ketua Asosiasi Pedagang Emas Permata Indonesia Kota Semarang, Bambang Yuwono, mengakui emas di kalangan milenal kalah pamor oleh ponsel pintar.

Itu baru soal kesukaan milenial terhadap emas, apalagi kalau pemikiran rasional tentang emas sebagai investasi. Kalau Namboru tahu, sejak 1998, Warren Buffet, orang terkaya di dunia itu sudah menganggap emas sebagai investasi bodoh.

Pendapat itu berdasarkan pada asumsi Buffet bahwa emas tidak memiliki kegunaan, kecuali pada 'nilai' tertentu yang diberikan oleh manusia padanya.

"(Emas) itu tidak ada kegunaannya. Siapapun yang menonton dari planet Mars akan menggaruk-garuk kepala (heran),” kata Buffet dalam pidatonya di Universitas Harvard 19 tahun silam.

Pendapat Buffet mungkin banyak ditentang oleh para investor konservatif yang takut ambil risiko. Tapi perlu Namboru ingat, emas dalam kasus Tika ini bukan logam mulia batangan Antam sebagai portofolio investasi.

(DAPATKAN KAOS: NKRI Harga Mati, Batak Harga Diri)

Emas sangge-sangge Tika ini cumalah perhiasan di leher dari seorang yang ingin memulai rumah tangga. Bukankah ketimbang beli emas besar-besar yang harganya stagnan dan kalau dijual harganya murah, lebih baik uangnya digunakan hal lain, seperti DP rumah misalnya.

Lagian Namboru juga bilang ke Tika rumah itu bukan warisan untuk mantan calon suaminya... :)

Balik lagi soal emas. Kalaupun akhirnya Tika memakai emas ‘sangge-sangge’, seharusnya Namboru bersyukur bahwa mantan calon parumaen (menantu) Namboru itu masih menghormati asas kepantasan.

Ya ketimbang lehernya kosong melompong dan dibicarakan orang, lebih baik dipakainya kalung emas, meski menurut Namboru itu pun masih seperti bulung ni sangge-sangge

Jadi sekali lagi, dunia sudah berubah Namboru. Anak milenial sekarang itu lebih gengsi punya handphone canggih ketimbang kalung emas besar-besar macam penari India zaman Namboru muda dulu.

Masak harus iPhone X atau Samsung S8 yang dijadikan kalung? Kan gak mungkin Namboru...