Gerhana Matahari di Mata Orang Batak Kuno

Coky Simanjuntak | Sabtu, 16 April 2016 23:04:26

Gerhana Matahari/CNN
Gerhana Matahari/CNN

Pada pagi hari 9 Maret 2016 silam, sebagian masyarakat Indonesia bisa menyaksikan Gerhana Matahari Total (GMT). Fenomena alam langka yang terakhir terjadi 33 tahun silam ini memang luar biasa menyedot perhatian warga.

Tapi tahukah kalian, masyarakat Batak kuno sudah mengenal istilah Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan lewat pengetahuan astronomi dalam Pustaha (kitab Batak).

Namun untuk mempermudah penjelasan kepada masyarakat awam, fenomena alam ini dijelaskan lewat mitologi (turi-turian). Mitologi itu diceritakan lewat permusuhan antara Matahari dan Bulan.

Dalam mitologi Batak, Gerhana Matahari terjadi sebagai balasan serangan Bulan kepada Matahari.

Bulan bersama pasukannya para Laha (Angka Laha/Angkalaha) menyerang Matahari. Nah, apabila terjadi Gerhana Matahari, yakni Matahari tertutup bayangan Bulan, itu berarti pertanda Bulan telah menaklukkan Matahari.

Sebaliknya, Matahari juga menghimpun pasukan para Lahu (Angka Lahu/Angkalahu/Angkalau) dan melakukan pembalasan dengan menyerang Bulan.

Bila terjadi Gerhana Bulan, yakni Bulan tidak tampak karena tertutup Matahari, itu tandanya Matahari dan pasukan Angka Lahu berhasil menyambar bulan.

Pertempuran itu berlangsung terus, karena masing-masing pihak saling menyerang tetapi masih dapat bertahan dan meloloskan diri. Karenanya, tidak ada Gerhana Matahari atau Gerhana Bulan yang permanen.

Nah, karena Matahari dipercayai lebih kuat dari Bulan, maka di alam semesta ini lebih sering terjadi Gerhana Bulan daripada Gerhana Matahari.

Dari legenda tersebut, orang Batak menyebut Gerhana Matahari menjadi Angkalahu dan Gerhana Bulan menjadi Angkalaha.

Tahun Baru Batak

Fenomena GMT yang terjadi pada 9 Maret 2016 silam diyakini juga bertepatan dengan Artia Sipahala Sada atau hari pertama bulan pertama dalam penanggalan Batak.

Bangsa Batak menggunakan penanggalan berdasarkan revolusi bulan. Ada 30 nama hari dalam sebulan. Satu tahun terdiri dari 12 bulan, dan menjadi 13 bulan setiap 4 tahun.

Penanggalan bangsa Batak ini umumnya masih digunakan Ugamo Parmalim, keyakinan asli Bangsa Batak. Sistem ini dipakai untuk menetapkan waktu ritual dan peribadatan.

Monang Naipospos, salah satu tokoh Parmalim, mengaku tidak mengetahui kenapa tahun baru Batak kali ini bersamaan dengan gerhana matahari. Bahkan, waktunya bersamaan dengan Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka.

Dia pun tidak punya catatan apakah tahun baru Bangsa Batak bersamaan dengan gerhana matahari pernah terjadi sebelumnya. Dia membebaskan semua pihak menginterpretasikan peristiwa ini.

“Terserah orang mau menerjemahkannya kejadian sebagai apa,” sebutnya.