Ditinggal Orangtua, 3 Anak Marga Butarbutar Bekerja Tambal Ban

Coky Simanjuntak | Sabtu, 31 Desember 2016 07:12:00

Tiga anak parbengkel/ FB: Tiosatuh Benny Tiosatuh
Tiga anak parbengkel/ FB: Tiosatuh Benny Tiosatuh

Kisah Nyata mengharukan terjadi di Desa Situnggaling, Merek, Kabupaten Karo, pada 25 Desember lalu.

Tidak seperti kebanyakan masyarakat setempat yang merayakan Natal, hari itu tiga lekaki abang beradik yang masih di bawah umur tampak sibuk bekerja di sebuah bengkel tambal ban.

“Memang kalian tidak Natalan?” tanya Benny Hutasoit (pemilik akun Facebook Tiosatuh Benny Tiosatuh) yang kebetulan sedang melintas kepada tiga anak marga Butarbutar tersebut, seperti diceritakan lewat akun Facebook-nya, belum lama ini.

“Nggak Bang. Kami lagi kerja Bang,” jawab salah satu dari mereka seperti ditirukan Benny.

Kakak beradik yang disebut Benny berusia 6, 9 dan 12 tahun itu bekerja di bengkel ’Tambal Ban Bersama’, yang berjarak 200 meter dari SPBU Desa Situnggaling arah Sidikalang.

“Itu bengkel milik orang,” kata Benny.

Namun, di bengkel sepetak yang terbuat dari papan yang sudah menghitam itu mereka tinggal tanpa orangtua. Bapak mereka, kata Benny, sudah meninggal dunia.

Lalu ke mana ibunya?

"Mamak gak tau dimana,” ujar mereka seperti ditirukan Benny, sambil menyebut kampung mereka berada di Tigalingga, Kabupaten Dairi.

Mendengar hal itu, Benny mengaku hendak meneteskan air mata. “Amang tahe massai ngeri dangol sitaononmu anggia (Aduh ngeri dan sedih sekali penderitaanmu adikku),” kata Benny dalam hati.

Kepada si anak nomor dua dan tiga yang sedang mencuci pakaian di belakang bengkel, Benny mengaku sempat bercanda bagaimana kalau mereka juga mencucikan bajunya. Ternyata canda Benny itu direspons serius oleh keduanya.

Diama Bang? Alai tuhor sabunna da Bang. (Mana bajunya Bang? Tapi beli dulu sabunnya ya Bang)” kata mereka.

Maksud hati ingin bercanda agar mereka terhibur, Benny justru terharu dengan keiklhasan mereka.

"Dan seketika itu rasanya aku mau menangis melihat aksi dan keadaan mereka. Agoi amang tahe haccit nai sitaononmi. (Aduh, sakit sekali penderitaan kalian),” kata Benny.

Tak lama setelah itu, Benny pun memberikan sedikit bantuan untuk ketiganya. Sebagaimana tradisi orang Batak, mereka pun makan bersama di bengkel yang sempit itu.

"Buat teman semua yang ingin bepergian menuju Medan-Sidikalang atau menuju Sidikalang-Medan, singgahlah di Desa Merek sebelum pom bensin ‘Tambal Ban Bersama. Lihatlah keadaan mereka, sungguh memprihatinkan,” ujar Benny.

“Waktu mereka tidak untuk bermain seperti anak kecil yang lainnya, melainkan bekerja mencari hidup. Pekerjaan yang mreka lakukan pun belum pantas untuk mereka lakukan,” ujarnya.

Klarifikasi

Setelah mendapat informasi ini, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Parsadaan Raja Toga Butarbutar Dohot Boruna (Partobuna) menelusuri dengan mengecek langsung keberadaan tiga anak tersebut pada Selasa (3/1). Namun, menurut Bapak Khania Butarbutar dari DPP Partobuna, informasi yang disampaikan Benny Hutasoit tersebut tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.

Keadaan sebenarnya menurut Bapak Khania Butarbutar yakni:

1. Anak yang disebut nomor pertama (usia 12 tahun) adalah bermarga Hutapea, ibunya sudah meninggal dan bapaknya masih hidup. Dia memang kerja di bengkel tambal ban tersebut.

2. Anak yang disebut nomor dua (usia 6 tahun) adalah bermarga Butarbutar. Bapaknya merantau dan dia tinggal bersama ibunya. Dia bekerja sambilan saat mamaknya kerja di ladang.

3. Anak yang disebut nomor tiga (3 tahun) adalah bermarga Simanjorang. Dia adalah anak dari pemilik kedai dekat bengkel Tambal Ban Bersama. Saat difoto, kebetulan dia sedang main di bengkel.

Bapak Khania Butarbutar mengatakan, awalnya penelusuran dilakukan pihaknya untuk membantu ketiga anak tersebut jika kondisinya seperti yang diberitakan.

“Terus terang saja ada yang siap mengadopsi. Tapi ternyata informasinya keliru,” kata Bapak Khania Butarbutar kepada batakgaul.com, Rabu (4/12).

SPONSORED
loading...