Demi Istri, Ekonom Batak Ini Pernah Menolak Jadi Menteri Jokowi

Coky Simanjuntak | Jumat, 27 Mei 2016 20:05:43

Mahendra Siregar/tokohindonesia.com
Mahendra Siregar/tokohindonesia.com

Menjadi seorang menteri tentu dambaan setiap orang yang telah lama berkarier di pemerintahan. Namun, kesempatan emas itu justru pernah ditolak oleh Mahendra Siregar, ekonom jebolan Universitas Monash, Australia.

Penolakan itu dia lakukan saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) sedang menjaring para calon menteri di Kabinet Kerja, Oktober 2014. Kala itu, pria kelahiran Jakarta 1 Januari 1970 tersebut ditawari kursi Menteri Perdagangan.

"Saat itu Pak Mahendra untuk ditugaskan menjadi Menteri Perdagangan. Tapi yang bersangkutan sedang ke Amerika, sehingga kesempatan yang diberikan ke Pak Mahendra Siregar akhirnya beliau tidak bisa menjalankan tugas itu," kata Hasto Kristiyanto, bekas Deputi Tim Transisi Jokowi-JK, dalam sebuah kesempatan.

Tawaran ini memang tidak mengejutkan mengingat Mahendra pernah menjabat Wakil Menteri Perdagangan (Januari 2010–Oktober 2011), Wakil Menteri Keuangan (Oktober 2011–Oktober 2013) dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal/BKPM (Oktober 2013–November 2014).

Namun apa mau dikata, ketika banyak orang menunggu telepon presiden dan berharap ditawari kursi menteri, Mahendra justru melepas tawaran tersebut.

Lalu apa alasan Mahendra melepasnya?

Sumber Batakgaul.com menyebutkan, Mahendra menolak tawaran menteri karena ingin merawat istrinya yang kala itu sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Amerika Serikat.

"Saya sudah janji kepada istri saya," kata sumber tersebut menirukan ucapan Mahendra.

Dia tidak merinci perawatan atau persoalan kesehatan apa yang dialami istri Mahendra kala itu. Namun yang jelas, penolakan Mahendra membuat tidak ada orang Batak dalam susunan awal Kabinet Jokowi.

Mahendra Siregar/youtube

Hal ini sempat membuat banyak halak hita kecewa, sebelum akhirnya Presiden Jokowi mengobatinya dengan memasang dua orang Batak sekaligus sebagai menteri koordinator, lewat perombakan (reshuffle) kabinet pada Agustus 2015. Mereka yakni Luhut Pandjaitan (Menko Polhukam) dan Darmin Nasution (Menko Perekonomian).

(BACA: Inilah Ompung Pantur Silaban, 'Einstein' dari Tano Batak)

Kembali soal Mahendra, sikap pria berdarah Batak Angkola dan Minang yang tak silau jabatan tersebut sebenarnya tidak mengherankan jika melihat pengunduran dirinya sebagai Kepala BKPM pada 20 Oktober 2014 atau bertepatan dengan habisnya masa kerja Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Dengan pengunduran tersebut, Mahendra tidak menyelesaikan masa jabatan setara menteri itu yang seharusnya berakhir pada 2018.
Kala itu, dia mengungkapkan keputusannya tersebut semata-mata demi solidnya pemerintahan Presiden Jokowi dalam mengimplementasikan visi dan misi yang diusung.

Dalam pemerintahan Presiden Jokowi ini, Mahendra Siregar menduduki kursi Komisaris Utama PT Semen Indonesia, BUMN sehat dan pertama yang 'go public'.

Ah, seandainya semua pejabat tak silau jabatan seperti Mahendra Siregar, politik negeri ini akan lebih baik.

 

 

SPONSORED
loading...