Cerita ’Si Batak Kembar' Cetak Sejarah di Belgia

Coky Simanjuntak | Rabu, 18 Mei 2016 13:05:25

Riana Nainggolan diulosi begitu tiba di Soekarno-Hatta/dtc
Riana Nainggolan diulosi begitu tiba di Soekarno-Hatta/dtc

Kehadiran Riana Nainggolan di tim nasional Belgia, menyusul saudara kembarnya Radja Nainggolan, ternyata cukup mencengangkan publik sepakbola Belgia. Sebab, baru kali ini ada saudara kembar yang masuk timnas negara Eropa itu secara bersamaan.

Ya, si Batak Kembar telah mencetak rekor di Belgia!

“Keluarga Nainggolan menorehkan keunikan dalam sejarah sepakbola Belgia,” demikian bunyi judul berita di portal berita sepakbola Voetbalnieuws.be saat Riana lolos seleksi timnas perempuan Belgia 2015 silam.

Bukti lain tercengangnya publik Belgia adalah judul Sporza.be, media lain di negara itu, yang mengangkat judul: “Gen sepakbola melekat di keluarga Nainggolan.” 

Selain bermain di Timnas Belgia, Radja dan Riana kini juga sama-sama bermain untuk klub sepakbola Italia, AS Roma. Dengan Radja di tim pria dan Riana di skuad wanita. 

Ives Serneels, pelatih timnas perempuan Belgia, menilai kepindahan Riana ke Roma berdampak baik bagi kariernya di timnas.

Kepada Spoors, Riana mengaku terkejut dengan panggilan timnas.

“Saya sebenarnya tidak menduga, saya hanya fokus ke klub. Tampaknya kepindahan saya ke kompetisi Italia, membuat saya lebih siap untuk panggilan timnas. Saya sudah tidak sabar ingin gabung dengan teman-teman di timnas,“ kata Riana.

(LIHAT: Ini Wajah Ayah Radja dan Riana Nainggolan)

Riana dan Radja Nainggolan jumpa pers bersama/redandwhitekop.com

Darah Batak

Riana dan Radja mendapatkan darah Batak dari ayahnya, Marianus Nainggolan. Namun, mereka sempat terpisah belasan tahun dari Marianus.

Baru pada Desember 2007, keluarga yang terpisah itu berkumpul kembali. Sang ayah bertolak dari Bali ke Piacenza, kota tempat tinggal Radja kala itu.

“Kami ditinggal di Belgia ketika masih berusia enam tahun. Ada perasaan kosong dan vakum selama belasan tahun, tetapi kembali terisi setelah tiga pekan bersama," ucap Radja kepada Eka Tanjung dari sepakbolanda.com.

Bagi saudara kembar ini, orangtua memiliki peran penting. Riana dan Radja mengenang, sang ayah dulu kerap mengajak mereka bermain sepak bola sejak usia empat tahun. 

Sang ibu, Lizi Bogaerts yang asli Belgia, juga mendukung anak-anaknya bermain sepakbola. Namun sayang, Lizi tidak bisa menyaksikan kesuksesan anak kembarnya, karena sudah lebih dulu berpulang karena penyakit kanker pada 2010.

“Sebelum mengembuskan nafas terakhir, ibu menitipkan saya agar menjaga adik dan semua keluarga. Saya tidak ingin mengecewakan ibu,” tutur Radja yang pernah mengatakan takkan pernah lupa bahwa dia berdarah Indonesia.

SPONSORED
loading...