Cerita Orang Batak 'Parhuta-huta' Bisa Hidup Sukses di Jerman

Coky Simanjuntak | Senin, 13 Maret 2017 18:03:48

Toga Silitonga berbagi pengalaman di kantor YPDT/danautoba.org
Toga Silitonga berbagi pengalaman di kantor YPDT/danautoba.org

Sama seperti banyak orang Batak yang lahir di kampung (huta), Toga Silitonga bisa disebut pahhuta-huta (orang kampung). Namun, sebutan itu tidak membuat pria kelahiran Tarutung 71 tahun silam ini minder.

Dengan kerja keras, disiplin, dan kejujuran, Silitonga bisa bekerja dan hidup di Jerman. Bahkan, pria yang lulus dari SMK di kampung ini sudah menjadi warga negara Jerman.

Medan adalah kota pertama yang ditujunya saat merantau. Di ibu kota Sumut itu, Silitonga bekerja sebagai guru di sebuah Perguruan Cina.

Menjadi guru bukanlah hal yang baru buat Silitonga, mengingat semasa sekolah SMK di kampung, dia juga sudah diminta mengajar anak-anak di sekolahnya dan di sekolah lain.

Menurut Silitonga, guru-guru pada masa itu kebanyakan cara mengajarnya otoriter. Dia mengkritik cara-cara otoriter tersebut. 

“Pada dasarnya anak-anak itu tidak ada yang bodoh, cuma masing-masing memiliki daya tangkap memahami pelajaran di sekolah berbeda-beda,” kata Silitonga saat berbagi pengalamannya dalam diskusi kamisan Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT), seperti dikutip dari danautoba.org, Kamis (9/3).

Dari Medan, Silitonga kemudian mengadu nasib ke Jakarta. Saat itu 1964, kebetulan di ibu kota negara sedang ada lowongan kerja di Freeport, perusahaan tambang yang beroperasi di Biak, Papua.

Dia pun akhirnya berangkat ke Biak. Tidak seperti pelamar lain yang menunggu berbulan-bulan, Silitonga hanya butuh dua hari sampai diterima oleh perusahaan asal AS tersebut.

"Pada akhirnya sayalah yang dipanggil dan diterima bekerja di perusahaan asing tersebut. Padahal saya baru dua hari di sana,” kata Silitonga.

Lalu bagaimana setelah bekerja di Freeport?