Cerita Ketua MPR Ditolong Orang Batak Saat Merantau ke Jakarta

Coky Simanjuntak | Selasa, 05 Juli 2016 11:07:51

Ketua MPR Zulkifli Hasan diulosi/istimewa
Ketua MPR Zulkifli Hasan diulosi/istimewa

Orang Batak diketahui sudah merantau ke Jakarta sejak 1907. Sebagai perantau yang lebih dulu menginjakkan kaki di ibu kota, orang Batak dikenal suka membantu perantau lain, terlebih yang berasal dari Sumatera.

Hal ini pernah dirasakan sendiri Ketua Majelis Permusyawaratan Rakat (MPR) Zulkifli Hasan yang berasal dari Lampung. Dia mengaku punya pengalaman panjang bersama orang-orang Batak. 

Saat pertama ke Jakarta, besan Amien Rais ini, bercerita sudah ditolong orang Batak untuk bersekolah di SMAN 53 Jakarta.

Ceritanya, kala itu pendaftaran sekolah sudah tutup. Namun, sang kepala sekolah yang orang Batak akhirnya menerima Zulkifli sebagai salah satu murid.

“Ini karena sama-sama berasal dari Sumatera,” kata Zulkifli sambil tertawa saat sosialisasi 4 pilar di Gedung Sopo Marpingkir HKBP,  Jakarta, setahun lalu.\

(BACA: Surat 'Sakti' Ini Picu Banyak Pemuda Batak Merantau ke Jakarta)

Zulkifli mengakui, sejak saat itu hubungannya dengan orang Batak makin dekat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kawan-kawannya kini yang orang Batak.

Kerena begitu kagum dengan budaya Batak, Zulkifli bahkan memilih Danau Toba sebagai tempat bulan madu bersama istri tercinta, Soraya. 

Ketua MPR Zulkifli Hasan/zulhasan.com

Zulkifli mengatakan Indonesia merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Sekalipun banyak suku, agama, dan adat istiadat yang ada di Indonesia. Namun semua tetap sama dan bisa menjadi apapun seperti yang dikehendaki.

"Ahok yang Tionghoa bisa menjadi gubernur DKI Jakarta, sementara ketua DPRD NTT merupakan seorang muslim, itulah Indonesia. Asal dipilih oleh masyarakat, maka tidak boleh ada pembatasan meski suku, ras dan agamanya berbeda", kata Zulkifli menambahkan.

(BACA: Ahok Sudah Diulosi oleh Dua Keluarga Batak Ini)

Inti dari ajaran Pancasila menurut Zulkifli adalah kekeluargaan, kebersamaan, tolong menolong dan gotong royong serta  musyawarah mufakat. Karena itu ke depan tidak boleh lagi ada menang-menangan, termasuk kelompok mayoritas kepada minoritas.

"Itulah yang saat ini dipegang dan diperjuangkan MPR, karena itu  setiap keputusan yang diambil oleh MPR dilakukan secara musyawarah mufakat", kata Zulkifli.