Bule Ini Senang Makan Sirih dan Minum Tuak di Tano Batak

Alex Siagian | Rabu, 11 Januari 2017 18:01:30

Pablo, warga Polandia/alex siagian
Pablo, warga Polandia/alex siagian

Karena masih perdana, Pablo terlihat kaku meramu napuran tersebut. 

Apalagi mencampur komposisi napuran tersebut seperti sirih, kapur dan gambir.

"Auu....ho..ho.. huh...rasanya," ujarnya tertahan setelah menggigit napuran (sirih) tersebut, wajahnya juga terlihat mengerut.

"Rasa pertamanya pahit, kemudian pedas. Lihat, mulut saya merah," lanjutnya  sambil menunjukkan isi mulutnya.

Usai menikmati napuran, Pablo lalu mengajak untuk minum tuak. "Kita boleh minum tuak?" ujarnya.

Sambil menikmati tuak, Pablo terlihat santai dan mengaku minuman khas batak itu sangat nikmat.

"Rasanya enak, saya sudah mulai mabuk," sebutnya sambil terus menikmati tuak dan asyik tertawa dengan warga di Desa Hutahaian, Laguboti.

Tak sampai di sana, ia masih terus sibuk mencari kebiasaan halak hita, sekarang adalah makanan.

"Saya pernah dengar naniura (makanan khas batak berbahan ikan dari hasil permentasi), dimana kita bisa menikmati itu?" sebutnya.

Tak panjang lebar, kami langsung meluncur ke rumah seorang teman di Desa Tambunan, Balige. Dengan perut keroncongan, kami langsung menikmati naniura yang dihidangkan.

Bagaimana reaksinya?