Bule Ini Senang Makan Sirih dan Minum Tuak di Tano Batak

Alex Siagian | Rabu, 11 Januari 2017 18:01:30

Pablo, warga Polandia/alex siagian
Pablo, warga Polandia/alex siagian

Pertama kali menginjakkan kakinya di Tano Batak, Pablo, warga negara Polandia, langsung mencari parnapuran (orang tua yang memakan sirih). Maklum, sudah lama dia dengar tradisi marnapuran (makan sirih) ala ompung-ompung halak hita.

"Saya ingin mencari pemakan sirih, saya juga ingin mencoba memakan sirih,” kata Pablo begitu tiba di Balige, Senin (9/1) pagi.

Pablo sengaja datang ke Tano Batak khusus untuk menikmati keindahan alam dan tradisi orang Batak. Di Balige, ia singgah di rumah seorang pemandu, Paul Rajagukguk. 

Pablo mengatakan sudah banyak mendengar tentang tradisi orang Batak saat dia tinggal di Lombok pada 2012.

"Saya sudah pernah tinggal di Lombok dalam program pertukaran mahasiswa dengan Polandia. Saat itu saya sudah dengar soal Tanah Batak, tapi tidak sempat saya jalani. Hingga saat ini saya punya waktu," lanjutnya.

Pablo (kanan) bersama reakan dan guide di Air Terjun Sigura-gura/alex siagian

Pablo mengaku ingin menikmati kehidupan halak hita secara langsung, mengenal budaya dan kebiasaannya.

"Saya sangat tertarik dengan kebiasaan orang Batak yang memakan sirih, minun tuak, berpesta dengan tarian tor-tornya, menikmati makanan dengan ciri khas pedasnya yang ketir di lidah,” kata Pablo.

"Dan yang pasti tidak ketinggalan menikmati keindahan alamnya," lanjut Pablo dengan Bahasa Indonesia seadanya.

Dia bahkan meminta batakgaul.com untuk menemaninya mencari parnapuran. Dengan memacu sepeda motor, kami membawa Pablo ke Huta Tinggi, Laguboti, Tobasa. 

Setelah bertemu dengan seorang ibu pemakan sirih di Huta Tinggi, Pablo langsung coba ikut menikmati daun tersebut.

Lalu, bagaimana reaksinya?