Barus, Jokowi dan Mumi Firaun

Coky Simanjuntak | Selasa, 28 Maret 2017 20:03:53

Presiden Jokowi di Makam Mahligai, Barus/Setpres
Presiden Jokowi di Makam Mahligai, Barus/Setpres

Kota Barus adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Indonesia. Dari kota inilah nama "kapur barus", atau orang lebih mengenalnya dengan kamper, berasal dan tersohor sejak dahulu kala.

Kapur barus ini oleh masyarakat digunakan sebagai pengharum pakaian, pengusir rengat dan bahan pengawet non makanan. 

Sejak dulu, kapur barus menjadi komoditas perdagangan yang penting. Istilah kapur barus digunakan para pedagang dari India, Asia Tenggara dan Timur Tengah untuk cairan yang dikeringkan hasil ekstraksi pohon kamper (Cinnamomum camphora).

Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah, Hendri Susanto Tobing, mengatakan kapur barus yang ada di masyarakat sekarang ini merupakan tiruan (sintetis). Sedangkan aslinya berasal dari getah pohon yang umurnya beratus-ratus tahun yang ada di hutan.

Dia mengungkapkan bahwa Kota Barus ini dulunya merupakan bandar yang besar, sehingga banyak saudagar dari Timur Tengah masuk ke sini dan juga melakukan syiar agama.

Hendrii mengungkapkan, kedatangan saudagar Timur Tengah ini dapat dibuktikan dengan situs pemakaman Mahligai dan Papan Tinggi yang bertuliskan Arab Kuno (Persia). Tulisan ini diperkirakan dibuat pada abad VII atau sekitar tahun 661 masehi.

"Mereka mencari kapur barus, kemenyan, lada ke sini dan juga menyebarkan agama," kata Hendri seperti dikutip Antara, Senin (27/3).

Hendri mengatakan kapur Barus asal Tapanuli Tengah ini terkenal dengan keharumanannya sehingga diburu dan mengakibatkan harganya relatif tinggi.

Lalu kenapa pohon kapur barus kini nyaris punah?